Denpasar (Atnews) - Intelektual Bali Jro Gde Sudibya bermukim di Desa Tajun Ring "Kaja Kangin" Bukit Sinunggal mengharapkan upakara Besar "Ring Wingkang Ranu Batur".
Upakara Panca Wali Krama ring Pura Ulun Danu Batur, Desa Songan, Upakara "Medewasraya" ring Pura Tuluk Biu Desa Batur, sepatutnya melahirkan kesadaran "mata hati" akan tantangan yang dihadapi oleh kawasan tersebut.
"Semestinya membuka kesadaran 'mata hati' akan ancaman yang dihadapi Kawasan Danau Batur dan Gunung Tampurhyang," kata Jro Gde Sudibya di Denpasar, Kamis (1/10).
Berangkat dari isi Prasasti Kintamani di era kepemimpinan Cri Aji Jayapangus, yang menetapkan kawasan Kintamani sebagai kawasan suci dan tempat meditasi.
Kawasan itu disebut Bubung Klambu dalam bahasa yang disederhanakan, tempat yang terlindungi secara niskala untuk terjaga dan terawat kesuciannya.
Sekarang kawasan itu dihadapkan ke sejumlah tantangan. Pertama, sisi fisik alam, lingkungan alam Danau Batur, Gunung Tampurhyang tercemari, akibat eksploitasi berlebih, kebablasan untuk kegiatan ekonomi dan kapitalisme pariwisata.
Industri yang men-'dewa'-uang dan kepentingan sesaat dan jangka pendek lainnya, dengan mengorbankan alam.
Pemda Bangli terlalu fokus ke kepentingan PAD (Pendapatan Asli Daerah), tidak peduli terhadap kerusakan alam.
Nilai sraddha keimanan, persepsi akan nilai kesucian alam mengalami kemerosotan, eksploitasi alam berlebih, semuanya serba boleh untuk kepentingan ekonomi instan.
Nilai nilai kultural semakin memudar, kehidupan yang serba pragmatis, ingin cepat dapat untung (quick yeilding), hampir semuanya dikomersialkan, memuja kepentingan ekonomi keuntungan.
Krama Desa Wingkang Ranu, semestinya bisa mengambil hikmah dari meletusnya Gunung Tampurhyang tahun 1926, 100 tahun lalu, derita yang dibawakan, serta masa sulit setelah itu, zaman kesulitan ekonomi ekstrem di masa malaise, disebut zaman "meleset", depresi ekonomi dunia akut di era dasa warsa tahun 1930-an.
Untuk itu, upakara besar yang semestinya melahirkan transformasi diri yang besar, melahirkan kesadaran dan membuka "mata hati" terhadap tantangan besar yang menghadang.
"Upakara besar harus melahirkan kesadaran baru, membuka 'mata hati' untuk cerdas merespons perubahan dan menghadapi tantangan," pungkasnya. (Z/002)