Karangasem (Atnews) - Bertepatan dengan hari suci Rahina Purnama Kapat, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, menghadiri rangkaian Upacara Yadnya Melaspas, Mendem Pedagingan, dan Pujawali Catur Rebah Mapadudusan Alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Bali, Sabtu (26/9/2026).
Upacara ini menandai selesainya pemugaran kawasan pelataran suci salah satu pura paling bersejarah di Pulau Dewata.
Tak hanya menghadiri prosesi sakral umat Hindu, Wamenpar Ni Luh Puspa bersama lintas sektor juga meluncurkan "Aksi Penanaman Simbolis Bambu dalam Gerakan Bambuloka".
Gerakan hasil kolaborasi dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) ini menargetkan restorasi ekologis seluas 100 hektar melalui penanaman 12.500 bibit bambu dan tanaman upakara (Multi Purpose Tree Species) di kawasan tangkapan air Lempuyang.
Pura Lempuyang Madya memiliki kedudukan spiritual yang sangat luhur dalam kosmologi Hindu di Bali. Secara historis dan spiritual, pura ini merupakan pilar penting penyangga kesucian pulau.
Pemugaran fisik yang diakhiri dengan upacara melaspas ini melambangkan penyucian kembali stana para dewa sekaligus penyelarasan energi spiritual alam semesta.
Dalam sambutannya, Wamenpar Ni Luh Puspa menekankan betapa pentingnya menjaga nilai spiritual dan ekologis secara bersamaan.
Beliau menyampaikan pandangan filosofis mengenai arah baru pariwisata yang harus diadopsi di Bali.
"Bali telah lama menjadi etalase dan magnet pariwisata dunia karena keluhuran adat, tradisi spiritual, dan keasrian alamnya. Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap ancaman defisit air dan penurunan daya dukung lingkungan.
Masa depan kepariwisataan Indonesia harus bertransformasi menuju pariwisata yang berkualitas dan memulihkan (quality and regenerative tourism) sebuah konsep pariwisata yang tidak hanya mengejar angka kunjungan, melainkan secara aktif merawat bumi yang kita pijak," ujar Ni Luh Puspa.
Menurut Wamenpar, pengembangan pariwisata berkualitas perlu diiringi upaya nyata dalam menjaga lingkungan dan melibatkan masyarakat setempat. Karena itu, Gerakan Bambuloka diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat konservasi kawasan sekaligus mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Gerakan tersebut juga sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana dan ajaran Sad Kerthi, khususnya Danu Kerthi yang berkaitan dengan pelestarian sumber air serta Wana Kerthi yang menekankan pelestarian hutan.
Penanaman bambu di kawasan tangkapan air Lempuyang diharapkan dapat membantu menjaga fungsi ekologis kawasan, termasuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air serta mengurangi risiko erosi. Upaya ini juga menjadi bagian dari pelestarian lingkungan yang mendukung kehidupan masyarakat sekitar.
"Apa yang kita tanam hari ini di pelataran suci Lempuyang Madya melambangkan keutuhan bakti kita, persembahan suci Parahyangan ke hadapan Sang Pencipta, merajut gotong royong dan menyama-braya di sisi Pawongan, serta komitmen Palemahan dalam merawat bumi," tegasnya.
Selain memberikan manfaat lingkungan, pengembangan ekosistem bambu juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Pemanfaatan bambu untuk produk kerajinan, pengembangan tanaman upakara, serta kegiatan edukasi lingkungan dapat menjadi bagian dari pengembangan usaha masyarakat berbasis potensi lokal.
Wamenpar berharap upaya konservasi tersebut dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh wisatawan, tetapi juga masyarakat di sekitar kawasan.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Perindustrian, jajaran anggota DPR RI dan DPD RI, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, para kepala daerah se-Provinsi Bali, para tokoh adat, serta mitra industri yang berkomitmen dalam penerapan prinsip kesetimbangan air (water balance) (Z/002)