Banner Bawah

Arsitektur Bali Tak Bisa Diubah Sembarangan

Atmadja - atnews

2019-10-12
Bagikan :
Dokumentasi dari - Arsitektur Bali Tak Bisa Diubah Sembarangan
Slider 1

Denpasar, 12/10 (Atnews) - Arsitektur Bali itu mempunyai filosofi tersendiri, sehingga tidak bisa diubah sembarangan. Karena setiap bangunan dan tekniknya mengandung makna yang sangat sacral, jelas Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) saat menjadi Keynote Speaker pada Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMATRA) bertempat di Ruang Aula Wiswakarma, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (11/10).
Arsitektur Bali mempunayi ciri khas tersendiri dan sudah terkenal hingga manca negara. Ciri khas ini juga menjadi penarik wisatawan yang ingin berkunjung ke Bali. Untuk itu, pemerintah berkomimen melakukan upaya melestarikan arsitektur Bali tersebut, 
Wagub Cok Ace yang juga merupakan jebolan Fakultas Teknik UNUD, menambahkan contoh kecil yakni tata letak rumah tradisional Bali yang mempunyai makna tersendiri berdasarkan asta kosala kosali yang dianut secara turun-temurun dari leluhur masyarakat Bali. “Contohnya saja, rumah kita ada Bale Daja yang letaknya di Utara, Bale Delod (Selatan), Bale Dauh (Barat), dan Bale Dangin (Timur), itu ada maknanya tersendiri dan peruntukannya.
Ia lalu melanjutkan konsep itulah yang diadopsi oleh Pemprov Bali dibawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster dalam membangun Bali. “Kita ingin membangun daerah utara sebagai daerah konservasi dan religi, sehingga wisatawan bisa menyaksikan secara langsung kekhasan budaya Bali yang sangat kental dengan agama Hindu, sementara untuk daerah Selatan kita fokus kembangkan hunian wisatawan dan perhotelan,” jelasnya. Begitu juga dengan daerah Barat dan Timur dikembangkan sesuai dengan fungsi dan keunggulan masing-masing. “Konsep kita membangun Bali adalah dalam satu tata kelola One Island One Management, sehingga semua karakteristik dan keunggulan Kabupaten/Kota bisa ditonjolkan,” jelas pria yang juga merupakan praktisi pariwisata tersebut.
lebih lanjut, Wagub Cok Ace berharap para ahli dan pembicara bisa memberikan sumbangsih bagi perkembangan arsitektur Bali, namun tidak lepas dari pakem yang sudah ada. “Saya harap agar seminar ini bisa memberikan kontribusi besar bagi perkmebangan arsitektur Bali dengan tetap berpegangan pada fisolofi arsitektur itu sendiri,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Dekan 1 Fakultas Teknik Universitas Udayana I Ketut Sudarsana, ST,. P.HD., menyatakan bahwa bangunan arsitektur di Bali harus tetap memperhatikan unsur budaya yang sudah turun temurun. Hal ini yang harus benar-benar diperhatikan oleh para arsitek muda Bali. Apalagi menurutnya tema seminar kali ini yaitu “Kebudayaan, Lingkungan Terbangun dan Arsitektur: Antara Konsepsi, Fungsi, Praktek, dan Resiliensi” sangat relevan dalam upaya pelestarian arsitektur Bali.(*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kominfo Dukung Kolaborasi PGRI-Siberkreasi Perkuat Bahan Ajar Informatika

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif