Banner Bawah

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Admin 2 - atnews

2026-04-02
Bagikan :
Dokumentasi dari - Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali
Pura Beji Dalem (ist/atnews)

Tabanan (Atnews) – Nuanu Creative City secara resmi menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai pura kawasan setelah melalui proses restorasi selama delapan bulan yang didukung penuh oleh Nuanu Social Fund.

Proses ini dilaksanakan melalui koordinasi dengan keluarga pengempon pura, para pemuka adat, serta masyarakat sekitar, dan ditutup dengan rangkaian upacara Ngenteg Linggih yang menandai kesiapan pura untuk kembali menjalankan fungsi spiritual dan keagamaannya.
 
Penetapan ini menjadi bagian penting dari bagaimana Nuanu memaknai pengembangan di Bali—bukan dengan menempatkan budaya sebagai latar, tetapi dengan menyadari bahwa lanskap yang dikembangkan memiliki makna spiritual, sosial, dan seremonial yang telah hidup sejak lama, dan perlu terus dihormati, dijaga, serta dijalankan.

Pura Beji Dalem Segara merupakan satu dari 12 pura yang berada di dalam kawasan Nuanu, dengan Pura Luhur Dalem Bomo sebagai pura utama (kahyangan). Seluruh pura ini telah ada sebelum pengembangan Nuanu dimulai, dengan sebagian besar berakar sebagai pura keluarga yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat serta memegang peran dalam memori budaya kawasan tersebut.

“Hal inilah yang menjadi esensi pengembangan Nuanu—mencari solusi yang saling menguntungkan. Kami berupaya menemukan cara untuk membantu merekonstruksi pura ini sehingga tidak hanya dapat kembali menjalankan fungsi spiritualnya, tetapi juga menjadi kesempatan belajar bagi para pengunjung untuk mengenal budaya Bali lebih dalam dan mengaguminya,” ujar Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City. “Bagi kami, bersikap menghormati tidak hanya berarti melestarikan, tetapi juga berupaya memperkuat nilai dan makna yang dimilikinya.”
 
Pura Beji Dalem Segara sendiri berakar dari keberadaan sumber air alami, atau beji, yang menjadi dasar terbentuknya tempat suci ini. Berdasarkan penuturan setempat, sumber air tersebut pertama kali ditemukan oleh leluhur keluarga Sudiana dari Banjar Beraban, yang hingga kini tetap menjadi pengempon pura.

Penetapan pura ini sebagai bagian dari kawasan Nuanu dilakukan melalui kesepakatan bersama dengan keluarga pengempon, sementara kepemilikan tetap berada di bawah keluarga Sudiana.

Pendekatan ini menjadi inti dari cara Nuanu bekerja. Proses restorasi dan penetapan pura tidak diposisikan sebagai simbol semata, melainkan sebagai bagian dari komitmen nyata untuk memastikan bahwa ruang-ruang suci di dalam kawasan tetap mempertahankan fungsi keagamaan, keterhubungan dengan komunitas, serta keberlanjutan peran pengemponnya.

“Di Nuanu, kami tidak melihat pura sebagai objek historis yang dijaga dari kejauhan, melainkan sebagai ruang suci yang hidup dan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Brand & Communications Director Nuanu Creative City. “Artinya, pengembangan tidak bisa dimulai dari asumsi bahwa lahan ini kosong.

Di dalamnya ada memori, fungsi, dan makna. Tanggung jawab kami adalah bekerja di dalam realitas tersebut secara hati-hati, melalui dialog dengan keluarga pengempon dan masyarakat, agar pura-pura ini tetap dapat digunakan, dirawat, dan dihormati sebagaimana mestinya.”

Rangkaian upacara Ngenteg Linggih menandai kesiapan pura untuk kembali menjalankan fungsi spiritual dan keagamaannya. Pelaksanaannya yang melibatkan pengempon, pemuka adat, dan masyarakat setempat mencerminkan prinsip yang lebih luas dalam pengembangan Nuanu: bahwa struktur budaya dan spiritual yang telah ada tidak boleh tergeser menjadi sekadar simbol, melainkan harus diintegrasikan secara utuh ke dalam kehidupan kawasan.

Seiring dengan perkembangan Nuanu, keberadaan 12 pura di dalam kawasan tetap menjadi bagian dari kerangka budaya dan spiritual yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bukan terpisah darinya. 

Penetapan Pura Beji Dalem Segara menegaskan bahwa pengembangan di Bali perlu berjalan dengan memahami pulau ini sebagai lanskap budaya yang hidup—di mana keberlanjutan, tanggung jawab pengelolaan, dan relasi dengan komunitas memiliki peran yang sama pentingnya dengan pembangunan fisik. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Weda Memperkuat Konsep Pembangunan Bali 

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif