Banner Bawah

Diperlukan Public Expose, Transparansi dan Risiko FSRU LNG di Bali Dipertanyakan

Admin 2 - atnews

2026-01-29
Bagikan :
Dokumentasi dari - Diperlukan Public Expose, Transparansi dan Risiko FSRU LNG di Bali Dipertanyakan
Agung Pram (ist/Atnews)

Bangkok (Atnews) –  Rencana pengembangan terminal Liquefied Natural Gas (LNG) di Bali menuai sorotan. Chief of Business Development Australasia Greenteclabs US, Agung Pram, menilai terdapat perbedaan persepsi yang cukup mendasar terkait transparansi hasil studi risiko proyek tersebut kepada publik.

Menurut Agung Pram, persoalan utama yang muncul bukan semata pada pilihan teknologi, melainkan pada keterbukaan proses pengambilan keputusan. Ia mempertanyakan mengapa hasil kajian kelayakan dapat terbit tanpa diketahui secara luas oleh masyarakat yang berpotensi terdampak langsung.

“Agaknya terjadi perbedaan persepsi terhadap transparansi mengenai hasil studi risiko ini kepada publik,” ujar Agung Pram dihubungi di sela - sela mengikuti MIT ASEAN Conference; Powering Southeast Asia throuh 2050 di Bangkok, Rabu (28/1/2026).

Ia menekankan, pengembangan terminal LNG di Bali seharusnya diletakkan dalam kerangka ekonomi biru. Dalam konsep tersebut, pembangunan tidak hanya berorientasi pada ekstraksi nilai energi, tetapi juga harus sejalan dengan upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem pesisir.

“Strategi ekonomi biru menekankan penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan mata pencaharian, tanpa mengorbankan kesehatan ekosistem,” jelasnya.

Agung Pram juga mengingatkan bahwa Bali memiliki karakteristik khusus yang tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. Ruang fisik di Bali, menurutnya, selalu berkaitan erat dengan dimensi metafisik dan religius yang hidup di tengah masyarakat.

Ia mencontohkan keberadaan Pura Sakenan di Pulau Serangan, situs suci yang telah berdiri sejak abad ke-11. Keberadaan pura tersebut dinilai menjadi jangkar sosiokultural yang semestinya dihormati dalam setiap perencanaan industri skala besar.

“Di Bali, ruang fisik tidak pernah terlepas dari dimensi metafisik dan religius. Ini harus menjadi pertimbangan utama,” ucapnya.

Dari sisi operasional, Agung Pram menilai profil risiko pembangunan terminal LNG di perairan Bali tergolong kompleks. Faktor eksternal seperti jalur penerbangan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan kepadatan lalu lintas kapal di Pelabuhan Benoa menambah tingkat kerawanan.

“Lokasi terminal yang berada di bawah jalur lepas landas dan pendaratan pesawat memerlukan koordinasi ketat dengan otoritas penerbangan, untuk memastikan tidak adanya gangguan navigasi atau risiko tabrakan,” katanya.

Ia juga menyinggung munculnya sejumlah dokumen perizinan yang dinilai terkesan tiba-tiba oleh publik, termasuk Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Kondisi ini, menurutnya, berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Karena tidak transparan, itu sebabnya mengapa perlu public expose. Kalau tidak, bisa timbul ketidakpercayaan terhadap pemerintah,” ujarnya.

Agung Pram berpandangan, setiap proyek infrastruktur besar di Bali semestinya dikaji ulang secara terbuka, terutama jika berada di wilayah laut. Ia menegaskan, risiko di laut jauh lebih tinggi karena ekosistemnya bersifat alami dan sensitif.

“Soal teknologi, sebenarnya semua sudah tersedia. Yang perlu dipahami adalah kelaikan teknologi yang tepat dan lokasi yang tepat. Mengapa harus di lokasi itu? Ini yang perlu dijelaskan ke publik,” katanya.

Menurutnya, public expose menjadi penting agar masyarakat dapat memahami pertimbangan yang digunakan, apakah lebih dominan faktor ekonomis, efektivitas, ketersediaan jalur laut, atau justru aspek risiko.

Ia juga mengingatkan bahwa kawasan sekitar rencana proyek LNG merupakan area dengan konsentrasi infrastruktur strategis, mulai dari kawasan ekonomi khusus (KEK), fasilitas PLN, Pertamina, hingga bandara internasional, yang masing-masing memiliki tingkat risiko tinggi.

“Para pengambil keputusan tampaknya belum sepenuhnya memasukkan preferensi Bali sebagai pulau kecil dengan sumber daya terbatas,” ungkapnya.

Agung Pram menilai, selain aspek ekonomi biru, dimensi sosial budaya, dan risiko operasional, ke depan Bali juga akan menanggung beban risiko tambahan dari infrastruktur lain seperti fasilitas waste to energy (WTE).

Meski demikian, ia menegaskan tetap membuka ruang terhadap hasil kajian para ahli yang sedang atau akan dilakukan. Menurutnya, sangat mungkin terdapat pertimbangan tertentu dari sisi ekonomi atau keterbatasan infrastruktur alternatif yang membuat lokasi tersebut dipilih.

“Tetapi mari kita tunggu analisa para ahli. Mungkin pertimbangannya ada pada sisi ekonomis dan tidak tersedianya infrastruktur yang memadai atau mahal bila dibangun di tempat lain,” pungkasnya.(Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Pangdam IX/Udayana Lantik 205 Bintara Prajurit Karier TNI-AD

Terpopuler

Keutamaan Makna Brata Shivaratri dan Aktualisasinya Dewasa Ini

Keutamaan Makna Brata Shivaratri dan Aktualisasinya Dewasa Ini

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Indonesia Kekurangan Tenaga Medis, Presiden Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Berstandar Dunia di RI

Indonesia Kekurangan Tenaga Medis, Presiden Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Berstandar Dunia di RI

PHDI Menang Gugatan ke-10, Pastikan Legalitas dan Selamatkan Bantuan Negara untuk Umat Hindu

PHDI Menang Gugatan ke-10, Pastikan Legalitas dan Selamatkan Bantuan Negara untuk Umat Hindu

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia