Banner Bawah

Cara Bijak Bali Menyambut Penghargaan World's Best Destination 2026, Saatnya Indonesia Bangkit dan Bertransformasi

Admin 2 - atnews

2026-01-18
Bagikan :
Dokumentasi dari - Cara Bijak Bali Menyambut Penghargaan World's Best Destination 2026, Saatnya Indonesia Bangkit dan Bertransformasi
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.(ist/Atnews) 

Oleh Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.
 
Siapa sangka, di tengah pusaran dinamika global dan bayang-bayang ketidakpastian pariwisata dunia, Bali kembali memanjat puncak tertinggi sejarah pariwisata global. Tahun 2026 menjadi saksi ketika Pulau Dewata menorehkan tinta emas sebagai “World’s Best Destination 2026” versi TripAdvisor Travelers’ Choice Awards: Best of the Best.

Sebuah kabar yang bergetar dari Nusa Dua hingga New York, dari Denpasar hingga Dubai. Namun sesungguhnya, ini bukan sekadar kemenangan.

Ini adalah kejutan simbolik bagi dunia sebuah pesan keras yang datang dari sebuah pulau kecil di nusantara bahwa Indonesia masih punya daya untuk memimpin global melalui budaya, spiritualitas, dan harmoni. Apa makna dari penghargaan ini? Lebih dari sekadar trofi digital atau peringkat dalam algoritma ulasan wisatawan, kemenangan ini membawa pesan kebangkitan bangsa.

Bali sedang berbicara kepada dunia dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti lewat rasa: kearifan, keramahtamahan, dan keseimbangan hidup.

Makna Penghargaan: Dunia Belajar dari Bali: Ketika destinasi-destinasi raksasa seperti Paris, Roma, hingga Tokyo berebut perhatian dunia, Bali justru menang bukan melalui kampanye besar-besaran, melainkan lewat ketulusan masyarakatnya. Jutaan wisatawan menulis, memotret, dan membagikan kenangan mereka bukan karena disuruh, tetapi karena mereka benar-benar tersentuh.

Itulah kekuatan sejati Bali: pesonanya bukan diciptakan, ia tumbuh dari kebijaksanaan lokal dan cara hidup yang selaras dengan alam. Inilah perbedaan fundamental antara “popularity” dan “authenticity.”

Bali tidak hanya populer, ia otentik. Bali tidak sekadar cantik, ia bermakna. Dan penghargaan itu artinya dunia sedang belajar dari Bali tentang cara hidup yang manusiawi di tengah modernitas yang serba cepat.

Lebih dalam lagi, kemenangan ini membuktikan relevansi abadi dari falsafah Tri Hita Karana. Di saat dunia berbicara tentang sustainability, green economy, dan well-being tourism, Bali telah hidup di dalam konsep itu jauh sebelum istilah-istilah tersebut menjadi tren global.

Tri Hita Karana adalah jantung Bali keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Ia bukan sekadar konsep, tetapi sistem sosial dan spiritual yang nyata.

Maka wajar bila setiap batu pura, setiap tarian, dan setiap senyum di Bali memancarkan keutuhan nilai yang dunia kehilangan.

Momentum Emas: Indonesia di Panggung Dunia: Bagi Indonesia, gelar “World’s Best Destination” yang kini dipegang Bali bagaikan obor yang menyala di tengah kegelapan pascapandemi.

Ia mengirim sinyal kuat bahwa pariwisata Indonesia tidak hanya sembuh, tetapi bangkit dengan kualitas baru.

Ini adalah saatnya seluruh pemangku kepentingan pemerintah, swasta, masyarakat adat, akademisi, hingga generasi muda bersatu menjaga momentum ini. Sebab kemenangan sejati bukan sekadar diraih, tetapi dijaga dan dimaknai.

Ada empat langkah strategis yang dapat menjadi arah baru bagi kebangkitan nasional: Reposisi Citra Indonesia: Bali kini menjadi “etalase dunia” yang menuntun wisatawan untuk menengok lebih dalam ke Indonesia.

Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengangkat destinasi lain yang sarat narasi budaya dan alam seperti Labuan Bajo, Toraja, Danau Toba, hingga Raja Ampat. Saat Bali bersinar, mari pancarkan cahaya itu ke seluruh kepulauan nusantara.

Dorongan Inovasi dan Investasi Berkelanjutan: Kepercayaan global terhadap Bali akan membuka ruang baru bagi investasi hijau di sektor pariwisata. Inilah saatnya membangun lebih banyak infrastruktur ramah lingkungan, transportasi beremisi rendah, serta sistem energi berkelanjutan di sektor hospitality. Smart tourism bukan sekadar konsep digital, tetapi juga sistem cerdas dalam mengelola dampak sosial dan lingkungan.

Penguatan SDM Hospitable Nation: Penghargaan ini membuktikan satu hal: kualitas manusia Bali adalah aset paling berharga. Keramahan mereka bukan dibuat-buat, melainkan bagian dari spiritualitas. Oleh karena itu, bangsa ini perlu memperkuat pendidikan vokasi pariwisata yang berpadu antara profesionalisme modern dan nilai lokal.

Indonesia memerlukan generasi pelaku pariwisata yang bukan hanya menang dalam servis, tetapi juga menang dalam makna.

Keadilan Ekonomi Pariwisata: Ketika euforia global menerpa, kita wajib memastikan bahwa manfaatnya tidak berhenti di hotel berbintang lima atau investor besar.

Pariwisata yang berkeadilan berarti melibatkan masyarakat adat, pengrajin, petani, dan pelaku UMKM sebagai bagian integral dari rantai nilai pariwisata. Itulah roh community-based tourism yang sejati kesejahteraan yang tumbuh dari bawah.

Tantangan: Antara Kemenangan dan Kehati-hatian: Namun, di balik sorotan lampu global, Bali kini berada di bawah kaca pembesar dunia. Label “The World’s Best Destination” bukan hanya pujian, tetapi juga tanggung jawab moral. Dunia kini menjadikan Bali sebagai contoh hidup: Can the world’s best also be the world’s most sustainable?

Pertama, risiko overtourism: Setelah pandemi, jumlah wisatawan melonjak signifikan, memberi tekanan pada air, sampah, energi, dan lahan. Jika tidak dikendalikan dengan sistem kuota atau manajemen zonasi yang bijak, kita bisa kehilangan esensi yang membuat Bali berbeda.

Kedua, homogenisasi budaya: popularitas sering kali menggerus keaslian. Tugas para pelaku wisata dan masyarakat budaya adalah memastikan setiap tarian, upacara, dan artefak tetap dihormati bukan dijadikan hiasan kosong untuk kamera turis.

Ketiga, ketimpangan ekonomi: Keindahan Bali tidak seharusnya hanya dinikmati segelintir pihak. Pemerataan ekonomi adalah kondisi wajib agar pariwisata benar-benar menjadi alat kesejahteraan, bukan ketergantungan.

Maka ke depan, pariwisata Bali perlu memperkokoh pendekatan yang berbasis tata kelola kolaboratif (collaborative governance) antara pemerintah, komunitas, dan industri.

Bali bisa menjadi laboratorium global bagi bagaimana pariwisata seharusnya hidup berdampingan dengan keanekaragaman hayati, bukan melawannya.

Bali sebagai Laboratorium Dunia: Bayangkan Bali tidak hanya sebagai destinasi, tetapi juga pusat pembelajaran pariwisata berkelanjutan dunia. Dari sini, dunia dapat belajar bahwa keberhasilan pariwisata tidak diukur dari lonjakan angka kunjungan, tetapi dari keseimbangan nilai, harmoni sosial, dan kemakmuran masyarakatnya.

Program seperti sertifikasi destinasi berkelanjutan berstandar GSTC, pengembangan riset pariwisata berbasis Tri Hita Karana, hingga desa wisata hijau dapat menjadikan Bali contoh nyata bagi konsep living sustainability. Melalui kemitraan antara perguruan tinggi, masyarakat adat, dan pelaku industri, Bali dapat memimpin dialog global tentang transformasi pariwisata.

Di sinilah kolaborasi antar-stakeholder menemukan makna terdalamnya bukan hanya berbagi keuntungan, tetapi berbagi tanggung jawab terhadap masa depan bumi.

Akhirnya mari kita renungkan: Di Mana Posisi Indonesia? Tidak lagi ribut-ribut tentang Warisan Dunia UNESCO, cukup konsisten dengan penerapan jatidiri sendiri yang Bernama THK: Tri Hita Karana. Indonesia tidak perlu meniru dunia; dunia justru datang mencari makna ke Indonesia.

Dari Bali, dunia melihat bahwa kemajuan modern bisa berpadu dengan spiritualitas, ekonomi bisa bersanding dengan moralitas, dan pariwisata bisa tumbuh tanpa merusak akar budaya.

Maka penghargaan ini seharusnya menggugah nurani seluruh negeri. Jika Bali bisa menjadi nomor satu dunia dengan menjunjung nilai lokalnya, mengapa daerah lain tidak? Kuncinya bukan di dana promosi semata, tetapi pada komitmen menjaga keaslian, mengutamakan keberlanjutan, dan menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Api yang Tidak Boleh Padam. Bali telah membuktikan: keindahan alam hanyalah pintu masuk; kekuatan sejatinya terletak pada jiwa masyarakatnya. Tetapi di balik gemerlap penghargaan ini, ada satu pesan yang tidak boleh diabaikan bahwa kemenangan sejati adalah ketika kesuksesan hari ini menjadi inspirasi bagi masa depan yang lebih baik.

Dunia kini menatap Indonesia dengan hormat, dan saatnya Indonesia membalas perhatian itu dengan kualitas, profesionalisme, dan kebijaksanaan. Bali bukan hanya menaklukkan dunia. Bali mengajarkan dunia bagaimana hidup dengan harmoni. Dan di sanalah, sesungguhnya, letak kemenangan sejati Indonesia.

*) Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR., Guru Besar Bidang Manajemen Bisnis Pariwisata dan Rektor Universitas Dhyana Pura, Badung.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Musisi Gus Teja Ikuti Tradisi "Siat Api" Penetral Kekuatan Negarif

Terpopuler

Keutamaan Makna Brata Shivaratri dan Aktualisasinya Dewasa Ini

Keutamaan Makna Brata Shivaratri dan Aktualisasinya Dewasa Ini

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Indonesia Kekurangan Tenaga Medis, Presiden Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Berstandar Dunia di RI

Indonesia Kekurangan Tenaga Medis, Presiden Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Berstandar Dunia di RI

PHDI Menang Gugatan ke-10, Pastikan Legalitas dan Selamatkan Bantuan Negara untuk Umat Hindu

PHDI Menang Gugatan ke-10, Pastikan Legalitas dan Selamatkan Bantuan Negara untuk Umat Hindu

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia