Pendekatan Komunitas untuk Cegah Stunting di Desa Gumbrih
Admin 2 - atnews
2026-01-05
Bagikan :
Kemitraan Masyarakat (PKM) (ist/Atnews)
Jembrana (Atnews)-Desember 2025 Upaya pencegahan stunting di Indonesia mendapat perhatian serius, khususnya melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.
Melalui pendekatan komunitas yang inovatif, tim ini berhasil merumuskan strategi holistik untuk mengatasi stunting yang marak terjadi di wilayah tersebut.
Stunting adalah kondisi kesehatan serius yang ditandai oleh rendahnya tinggi badan balita dibandingkan dengan standar usia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendefinisikan stunting sebagai kondisi di mana tinggi badan balita berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median kurva pertumbuhan, yang mengindikasikan malnutrisi jangka panjang. Data terbaru menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Jembrana tercatat mencapai 14,2% pada tahun 2022, meskipun ada penurunan dari tahun sebelumnya.
Tim PKM yang dipimpin oleh Dr. dr. Komang Trisna Sumadewi, M.Biomed bersama Fransiscus Fiano Anthony Kerans, S.Si, M.Biotech, PhD dan dr. Dewa Ayu Putu Ratna Juwita, M.Kes melaksanakan program pendampingan bagi keluarga berisiko stunting. Program ini berfokus pada pencegahan stunting, peningkatan pengetahuan gizi bagi ibu dan pengembangan ketahanan pangan melalui pemeliharaan ayam buras di lingkungan rumah.
"Intervensi gizi yang efektif paling baik dilakukan selama 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari kehamilan hingga dua tahun pertama. Oleh karena itu, kami mengedukasi ibu-ibu tentang pola asuh dan gizi seimbang yang baik untuk anak," ungkap Dr. Sumadewi.
Edukasi hingga Pendampingan
Program ini mencakup penyuluhan mengenai kebutuhan gizi dan pola asuh yang tepat, serta pelatihan dalam pembuatan makanan sehat untuk anak. Dalam program ini, tim juga memberikan paket gizi berupa susu tinggi protein kepada balita yang berisiko mengalami stunting, pemberian sembako dan bibit ayam untuk diternak.
Keterlibatan masyarakat lokal, seperti Kader Posyandu dan keluarga balita, sangat penting dalam proses ini. Hal ini didukung dengan hasil wawancara yang menunjukkan pengetahuan gizi di kalangan orang tua masih rendah, yang menjadi tantangan dalam upaya pencegahan stunting.
Hasil yang Dicapai
Setiap bulannya, monitoring dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan dan pertumbuhan anak serta efektivitas pelaksanaan program. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan orang tua dan keterampilan dalam mengolah makanan yang bergizi bagi anak mereka.
"Kami telah menargetkan lebih dari 85% ibu balita mendapatkan penyuluhan dan pelatihan. Dari hasil evaluasi, kami berhasil mencapai angka tersebut, dan kami juga melihat peningkatan dalam asupan gizi balita di Desa Gumbrih," jelas Dr. Sumadewi.
Komitmen pemerintah setempat dan dukungan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan program ini. Pentingnya kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat.
"Kami berharap pendekatan ini dapat menjadi model yang diadopsi di daerah-daerah lain untuk mencegah stunting secara efektif," tutup tim PkM.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, program pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa perbaikan gizi dan pola asuh yang baik dapat mencegah stunting dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Desa Gumbrih, serta menjadi contoh bagi daerah lain. (Z/002).